Menilik Gaya Hidup Wanita Yaman; sebuah Refleksi penerapan Syariat Islam di Tanah Para Nabi

                                                    Google Images
Menilik Gaya Hidup Wanita Yaman; Sebuah Refleksi
Penerapan Syariat Islam di Tanah Para Nabi
Sebelum memulai catatan ini lebih lanjut, mungkin diantara pembaca ada yang bertanya-tanya mengapa tulisan ini fokus pada wanita di Yaman. Kenapa bukan Korea? Atau Belanda? Paling tidak ada dua alasan yang mendasari; pertama, penulis sendiri kini tengah tinggal di Yaman selaku mahasiswa di Universitas Al-Ahgaf, kedua, penulis ingin memberi suguhan anti mainstream. Sudah banyak artikel atau tulisan yang membahas tengan Korea, Jepang, atau negara terkenal lainnya. Tapi seputar negeri Yaman penulis rasa masih sangat minim. Maka dengan niat yang tulus, sedikit pengalaman hidup dan segala kekurangan, penulis pun memulai tulisan ini dengan mengharap ridho Allah SWT.
Sejujurnya, penulis merasa agak berat memaparkan fakta-fakta seperti di tulisan ini karena akan memuat beberpa perbedaan gaya hidup antara wanita Yaman dan Indonesia. Penulis tahu benar bahwa wanita tidak suka dan sama sekali tidak nyaman jika dirinya dibeda-bedakan. Jika itu terjadi ketika berpacaran, maka tanpa berfikir panjang si wanita akan merajuk, berubah mood, dan lebih garang dari pada singa betina yang lagi datang bulan. Nauzubillah. Tapi yang perlu digaris bawahi adalah tulisan ini bersifat informatif bukan provokatif. Jadi kalau diantara pembaca (khususnya para wanita) ada yang tersinggung setelah membaca tulisan ini, penulis sama sekali tidak bertanggung jawab. Terima kasih!
Perbedaan pada dasarnya bukanlah alasan untuk membanding-bandingkan. Karena perbedaan adalah sunnatullah yang harus dijaga dan disikapi dengan bijak. Bukan malah dijadikan alasan untuk memenangkan ego masing-masing. Pun juga dengan tulisan sederhana ini. Penulis ingin memaparkan dengan sederhana beberapa fenomena gaya hidup, kultur, dan budaya wanita Yaman yang tidak ditemukan di Indonesia.
Yaman dan Budayanya

Yaman adalah salah satu negara di kawasan Asia Barat yang mayoritas penduduknya muslim. Hal ini berpengaruh pada gaya berpakaian para wanita di sana. Cadar adalah pakaian wajib bagi semua wanita. Meski demikian perlu pembaca tahu bahwa negara Yaman menjamin kebebasan beragama meski Konstitusi Yaman menyatakan bahwa agama resmi negara adalah Islam. Indonesia pun begitu menjamin kebebasan beragama.
Pakaian khas wanita Yaman adalah abaya yang disebut juga dengan shaili, yaitu pakaian lengan panjang hitam yang menutupi seluruh badan. Di bagian bawahnya kaum wanita memakai celana longgar dan kandura, yaitu pakaian yang dibordir dengan motif emas atau perak. Sedangkan kalau pakaian wanita khas indonesia adalah berjilbab sekedar menutup kepala dan dada dan menggunakan rok atau celana. Yang penting lekuk-lekuk tubuh nggak kelihatan.
Penulis sudah bergaul dan ikut bermasyarakat di wilayah Fuah, Yaman. Sampai detik ini penulis tidak pernah melihat wanita wanita seksi di jalanan. Semua menutup aurat. Walaupun mereka juga mungkin sedikit bosan dengan pakaian gamis hitamnya yang digunakan berjalan dibawah sinar matahari panas yang sangat menyengat. Tidak bisa dibayangkan bagaimana kuatnya mereka menutup semua tubuh dengan gamis dan cadarnya di atas tanah yang panas.
“Itulah wanita demi menjaga pandangan laki dan kesejahteraan bagi Negara, kata salah seorang kawan penulis yang merupakan penduduk asli Fuah, Hadaramaut, Yaman. Pada akhirnya tidak pernah terdengar dan tersuguhkan di televisi ada berita tentang pemerkosaan atau pencabulan di negara ini. Penulis tidak yakin 100% negara Yaman tidak ada hal negatifnya.  Semua negara pasti ada hal negatif atau kebiasaan buruk, khususnya cara pakaian mereka. Tapi ini adalah usaha pemerintah bersama warga Yaman guna mengurangi angka pencabulan,pemerkosaan serta menjaga norma dan moral generasi muda.
Wanita di Yaman tidak diperbolehkan meninggalkan rumah tanpa ijin suaminya sekalipun meninggalkan rumah tersebut disebabkan oleh keadaan darurat.  Aturan sosial ini mengakibatkan banyak wanita tidak bisa mengenyam pendidikan, kesempatan kerja, dan melakukan aktivitas sosial lainnya. Hanya 35% kaum wanita Yaman yang mampu membaca dan menulis. Di Yaman banyak wanita memilih menikah dini. Hampir separuh dari wanita Yaman menikah pada usia 18 tahun dan dijodohkan oleh orang tuanya.
Salah satu aturan disini juga adalah wanita tidak boleh bekerja seperti berdagang dan sebagaianya. Kalau kita melihat toko-toko dan kios-kios di pinggir jalan maupun dalam perkampungan penjualnya  pasti laki-laki. Dan uniknya juga di setiap warung makan tidak boleh wanita masuk dan ikut makan di dalam warung tersebut kecuali wanita yang sudah tua renta dan anak-anak yang belum baligh.
Akan sangat sulit menemukan wanita Yaman yang hobi selfie dan cekrek sana-sini. Apalagi selfie tanpa cadar. Sangat berbeda dengan Indonesia yang seakan tiada hari tanpa selfie. Wanita-wanita Yaman selalu berusaha menjaga privasinya di manapun, baik di dunia nyata dan juga dunia maya.

Aurat wanita dalam perspektif Islam

Islam sangat tegas dan  tidak plin plan dalam menetukan aurat wanita, seluruh tubuhnya merupakan aurat kecuali wajah dan telapak tangan. Mengumbar aurat adalah dosa baik bagi si empunya aurat maupun yang melihatnya. Islam punya alasan tersendiri mengharamkan wanita membuka aurat. Beberapa alasan itu antara lain; pertama; Islam sangat menghargai dan menjunjung tinggi harkat dan martabat wanita. Hal itu dibuktikan dengan aturan menutup aurat yang bertujuan untuk menjaga wanita dari pandangan laki-laki serta gangguan manusia dan jin.
Kedua; Islam sangat menjaga kedamaian suatu negara pada khususnya dan kedamaian dunia pada umumnya. Salah satu jalan yang ditempuh untuk mewujudkan misi mulai tersebut ialah menjaga para wanita. Karena wanita sangat rentan dengan fitnah, baik sebagai sumber pemicu munculnya sebuah fitnah ataupun sebagai korban dari suatu fitnah. Salah seorang tokoh besar Nahdhatul Wathan, M. Zainul Majdi menyatakan sebuah perumpamaan yang beliau dinukil dari hadis. "Fitnah itu seperti singa. Siapapun yang membangunkannya maka akan terlaknat."
Fenomena tentang gaya hidup wanita Yaman menurut hemat penulis tak lepas dari pengaruh budaya Arab dan penerapan syariat Islam. Pasalnya hal ini diprakarsai oleh pemerintah dan juga masyarakat. Telah tercipta sebuah kekompakan tidak langsung antara rakyat dan pemimpinnya untuk bersama-sama menerapkan aturan yang berbasis syariat Islam dengan tujuan menjaga moral dan norma generasi muda.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Anak cucuku adalah Motivasiku