Sholat dan Kehidupan;Memetik pelajaran dari setiap tuntunan Sholat untuk kehidupan

                                               Google Images
Bagi kaum  beragama seyogyanya harus memahami makna agama tidak hanya sebatas simbol dan liturgi. Mereka harus memahami, meyakini, dan mengamalkan dengan baik ajaran dan tuntunan agama yang dianut. Masing-masing agama memiliki cara pribadahan yang berbeda-beda. Agama Kristen dengan gengaman tangannya di depan Tuhan Yesus. Agama Hindu dengan sesajennya di depan Dewa-dewa. Agama Islam dengan sedekapannya menghadap Allah.
Agama Islam memiliki tiga aspek fundamental yakni iman, islam, dan ihsan. Rukun iman wajib dipercayai, rukun Islam mesti dilaksanakan, dan konsep ihsan mesti dihayati serta selalu berusaha diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Salah satu rukun Islam yang sering kita laksanakan adalah sholat lima waktu.
Sholat diperintahkan melalui sebuah peristiwa maha agung; isra miraj. Sebuah perjalanan luar biasa yang membawa nabi berkelana dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsa lalu terbang bersama malaikat Jibril menuju Sidratul Muntaha.
Dari segi geografis jarak antara Makkah dan Palestina kira-kira 1.500 km. Rasulullah menceritakan bahwa beliau menunggangi buraq lalu beristirahat sejenak di Masjidil Aqsha. Kemudian melanjutkan perjalanan ke Sidratul Muntaha. Perjalanan yang sangat panjang hanya membutuhkan waktu yang teramat singkat, satu malam saja. Sungguh! Hanya orang-orang yang beriman pada Allah dan Rasul-Nya dengan sebenar-benar iman lah yang percaya pada perkataan Rasulullah SAW tersebut.
 Sholat Tak Sekedar Liturgi
Perintah Allah yang kemudian berkembang menjadi syariat biasanya akan melalui tahapan distribusi berupa Allah memberikan perintah kepada Nabi Muhammad SAW melalui perantara malaikat Jibril. Perintah itu mendatangi  nabi melalui wahyu demi wahyu. Namun perintah sholat lain dari pada yang lain. Rasulullah mendapat perintah sholat dengan tahapan yang anti mainstream. Rasulullah SAW lah yang menghadap Allah dan meminta langsung perintah sholat tersebut.
Liturgi-liturgi agama adalah bentuk penghambaan makhluk kepada Sang Penciptanya. Adapun posisi akal terhadap liturgi-liturgi tersebut harus kita tempatkan pada posisi yang tepat. Ada kalanya akal bisa mencerna mengapa sebuah liturgi diperintahkan. Namun tidak jarang keterbatasan akal hanya akan membuat seseorang stres memikirkan liturgi tersebut. Di sinilah fungsi iman dalam mengawal kerja akal. Akal harus diposisikan sebagai variabel pendukung peningkatan keimanan. Bukan malah dijadikan sebagai alasan untuk menepikan keimanan.
Dalam ibadah sholat adalah sebuah kewajaran tatkala umat Islam berusaha menggunakan akal (tentunya disertai iman) untuk menguak sisi filosofis dibalik perintah melaksanakan, mendirikan, dan menjaganya setiap hari. Hidup itu penuh dengan peristiwa pahit dan manis, kemenangan dan kekalahan, jadi amplitudonya selalu naik turun. Bukankah solat mengajarkan kita bahwa dalam solat tidak mesti berdiri terus, akan tetapi ada rukuk dan sujud. Ada duduk tasyahhud akhir dan salam. Ketika berdiri kita diwajibkan membaca surat al fatihah karena di dalam surat itu terdapat kalimat "Iyyakana'budu Wa Iyyakanasta'in" yang mengandung makna pengakuan diri untuk beribadah kepada-Nya dan pengakuan diri untuk meminta bantuan-Nya dalam segala urusan.
Maknanya ialah ketika seorang mendapatkan sebuah kemenangan, kejayaan, kesukesaan, dan kebahagiaan, sungguh itu semua tak luput dari bantuan Allah dan petunjuk-Nya. Dalam keadaan Sujud pun disunnahkan membaca tasbih" Subhanarabbiyal A'la" yang maknanya Maha Suci Allah Tuhan Yang Maha Tinggi. Makna filosofisnya ialah agar kita selalu merasa rendah karena hakikat kita adalah hamba yang tidak ada apa apanya. Kita tidak boleh sombong dengan apa yang kita punya.
Tuma'ninah pun tak kalah penting untuk kita pahami maknanya. Tuma'ninah ialah berdiam sejenak setelah membaca tasbih dalam ruku’, I'tidal, sujud, dan duduk antara dua sujud Ukuran tuma'ninahnya adalah seperti membaca Subhanallah.  Makna filosofi yang dikandungnya ialah bahwa kita harus memiliki waktu sejenak untuk memikirkan tentang pekerjaan demi pekerjaan yang telah dan akan dilakukan.  Memikirkan baik buruknya, akibatnya, serta manfaat dan kerugiannya.
Agama Islam mengajarkan bahwa sholat lima waktu lebih afdol jika dilaksanakan berjamaah. Ada imam dan ada makmum. Ada yang memimpin pelaksanaan sholat ada yang mengikuti. Tidak menutup kemungkinan sang imam juga bisa salah dan lupa  dalam gerakan, bacaan, maupun rukun sholat. Maka makmum harus tetap waspada jika imam lupa gerakan solat. Makna filosofinya adalah kita harus memikirkan segala keputusan-keputusan para pemimpin,apakah kebijakannya baik atau buruk. Harus mengambil waktu sejenak untuk berfikir  sebelum mengikuti dan melaksanakan kebijakan pemimpin. Begitu hubungan filosofis sederhana antara konsep berjamaah dan konsep tumaninah secara personal.
Ketika pemimpin salah dalam kebijakannya maka seharusnya yang dipimpin menegur dan mengkritik dengan cara yang baik dan benar tanpa menimbulkan rasa ketersinggungan. Itulah yang diajarkan dalam solat, di saat imam lupa dalam gerakan solat, tegur lah dengan ucapan Subhanallah untuk makmum laki-laki dan menepuk punggung tangan sebelah untuk makmum perempuan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Anak cucuku adalah Motivasiku

Menilik Gaya Hidup Wanita Yaman; sebuah Refleksi penerapan Syariat Islam di Tanah Para Nabi