Kisah nyata dari kota Tariem
Ada seorang mahasiswa Indonesia yang melanjutkan S1 nya di Universitas Alhgaf Fakultas Syariah. Beberapa bulan lagi ia akan menyelesaikan tugas akhir lalu pulang ke negeri tercinta dengan membawa ijazah dari kampusnya.
Sumber gambar: Google Images
Pada suatu hari mahasiswa ini berbelanja di sebuah Baqolah atau toko yang khusus menjual makanan. Ketika hendak membayar ke kasir mahasiswa itu kaget lantaran uangnya tidak cukup untuk membayar seluruh belanjaannya. Ia gelisah dan kebingungan. Sedangkan di belakangnya telah mengantri beberapa orang yang hendak membayar belanjaan mereka masing-masing.
Tiba-tiba seorang wanita yang berdiri tepat di belakang mahasiswa itu maju ke kasir dan membayar belanjaan si mahasiswa itu. Sepatah katapun tak keluar dari lisan wanita berpakaian tertutup itu. Mahasiswa itu hanya terdiam melihat apa yang dilakukan si wanita. Ia kaget dan bingung mengapa wanita itu bersedia membayar belanjaannya. Dia hanya dapat melihat mata dan saputangan wanita itu. Sulit bisa membayangkan wajahnya seperti apa karena tertutup cadar.
Keesokan harinya Mahasiswa itu menulis surat kenalan dan ucapan terima kasih kepada wanita itu, melewati kasir baqolah tempat biasanya mereka berbelanja. Tak lama kemudian wanita itu pun menerima surat tersebut dan membalas suratnya lalu mengaku namanya Zahra, balasan surat yang sangat simple. Hanya menyebut nama. Tidak lebih tidak kurang. Dan mahasiswa itupun menitip surat yang kedua denganmenyebutkan namanya saja, Faiz. Padahal Zahra tidak bertanya namun Faiz berinisiatif ingin namanya diketahui oleh Zahra.
Surat-menyurat itu berlangsung beberapa saat. Zahra jadi tahu bahwa Faiz adalah mahasiswa tingkat akhir dan Faiz pun tahu bahwa Zahra adalah mahasiswi di Yaman. Dan yang membuat Faiz bahagia adalah ketika mengetahui bahwa ternyata Zahra juga berasal dari Indonesia.
Hingga pada suatu hari tak seperti biasanya, surat Faiz tak berbalas. Berhari-hari Faiz menanti namun si kasir yang telah menjadi langganan kurirnya tak jua membawa titipan dari Zahra. Ia bingung sekaligus khawatir akan wanita itu. Ada apa gerangan hingga Zahra tak membalas suratnya. Apakah wanita itu sakit? Ataukah ia membuat wanita itu tersinggung? Jangan-jangan ia malah membuat Zahra tak nyaman dan Zahra menginginkannya berhenti mengganggu kehidupannya dengan surat-surat tak penting itu? Ribuan pertanyaan berkecamuk dalam fikiran Faiz.
Faiz merasa kehilangan wanita bercadar bersapu tangan putih hello kitti itu, setiap kali melihat wanita bergamis hitam ia pasti melihat sapu tangan yang wanita itu pakai. Namun tak satu pun yang mengenakan sapu tangan yang ia cari. Ah, Faiz sepertinya jatuh cinta kepada wanita yang mengaku bernama Zahra itu.
Setelah beberapa bulan Faiz pun pulang karena telah menuntaskan pendidikan S1 nya di kampus Al Ahgaf dengan membawa kenangan bersama Zahra. Walau hanya bertemu beberapa kali dan berkirim surat tapi cukup membuatnya hidup lebih tentram. Ketika Faiz hendak pulang ia pun bingung dan gelisah karena harus berpisah dengan Zahra. Dan semakin kalut lantaran tak tahu hingga detik itu dimana keberadaan Zahra. Kemana ia harus mencarinya. Tak ada satupun yang mengetahui rimbanya.
Setelah cukup lelah mencati akhirnya Faiz pun pasrah berpisah dengan Zahra. Ia telah berusaha dan berdoa. Kini saatnya bertawakkal atas cinta dan pengharapannya yang berkepanjangan ini kepada Tuhan. Dalam doanya ia selipkan nama Zahra, meratap dan memohon pada Allah agar berkenan mempertemukannya dengan Zahra lagi. Ia hanya ingin mengucapkan terima kasih dan berbalas budi pada gadis yang telah ia cintai itu.
Sesampai di tanah air Faiz ternyata telah dijodohkan oleh orang tuanya dengan seseorang wanita bernama Melia. Berat hati ia menerima tawaran orang tuanya karena dia punya keinginan kembali ke Yaman guna mencari Zahra ke setiap kampus di Tarim. Ia yakin Zahra pasti berada di sana.
Tapi orang tuanya tidak mengizinkan. Hatinya berkecamuk. Ada badai besar tengah menerjang pendiriannya. Apakah menuruti kata hati atau kata orang tua?
Sebagai alumni kampus Islam, ia pun sadar dan memutuskan mengikuti keinginan orang tuanya. Dengan mengharap ridho Allah ia mulai berusaha untuk menghapus nama Zahra dalam otaknya dan akhirnya dia menerima tawaran orang tuanya dengan rasa ikhlas.
Singkat cerita Faiz dan Melia pun menikah. Ketika acara pernikahan sudah usai mereka duduk berdua di dalam kamar pengantin. Malam itu angin bertasbih menciptakan hawa dingin yang memeluk badan. Suasana dingin itu makin terasa lantaran Faiz yang bersikap dingin. Melihat gelagat suaminya Melia pun angkat suara.
Kenapa kau diam kanda? Apakah ada seorang wanita lain dihatimu?”
Faiz terkejut mendapat pertanyaan seperti itu dari istrinya. Tatapan mata istrinya menghujam pertahanan hatinya. Inilah saatnya gumam Faiz dalam hati
“Saatnya aku jujur padamu," Faiz menghela nafas sejenak
Sebenarnya ada wanita lain yang namanya masih melekat dipikiranku, ucap Faiz hati-hati seraya menunduk. Ia tak kuasa memandang istrinya.
Melia tercekat. Siapakah nama wanita itu?”
“Namanya Zahra. Hanya itu yang ku tahu tentangnya,
Demi mendengar kejujuran lelaki yang baru beberapa jam resmi menjadi suaminya itu Melia bangkit. Faiz merasa bersalah. Tidak seharusnya ia jujur di malam pengantin seperti ini. Bagaimana kalau istrinya sakit hati? Bukankah dosa bagi seorang lelaki yang menyakiti hati istrinya? Ah, lelaki macam apa aku ini! Gerutu Faiz.
Kanda!
Faiz mendongak mencari asal suara. Melia berdiri di hadapannya.
Maafkan aku, kanda, ucap Melia seraya memakai sebuah sapu tangan di hadapan suaminya. Faiz terkejut bukan main. Itu sapu tangan Hello Kity milik Zahra. Bagaimana bisa...
Akulah Zahra yang kau maksud,kanda. Melia Ayu Zahra,
Bersambung...
Sumber gambar: Google Images
Pada suatu hari mahasiswa ini berbelanja di sebuah Baqolah atau toko yang khusus menjual makanan. Ketika hendak membayar ke kasir mahasiswa itu kaget lantaran uangnya tidak cukup untuk membayar seluruh belanjaannya. Ia gelisah dan kebingungan. Sedangkan di belakangnya telah mengantri beberapa orang yang hendak membayar belanjaan mereka masing-masing.
Tiba-tiba seorang wanita yang berdiri tepat di belakang mahasiswa itu maju ke kasir dan membayar belanjaan si mahasiswa itu. Sepatah katapun tak keluar dari lisan wanita berpakaian tertutup itu. Mahasiswa itu hanya terdiam melihat apa yang dilakukan si wanita. Ia kaget dan bingung mengapa wanita itu bersedia membayar belanjaannya. Dia hanya dapat melihat mata dan saputangan wanita itu. Sulit bisa membayangkan wajahnya seperti apa karena tertutup cadar.
Keesokan harinya Mahasiswa itu menulis surat kenalan dan ucapan terima kasih kepada wanita itu, melewati kasir baqolah tempat biasanya mereka berbelanja. Tak lama kemudian wanita itu pun menerima surat tersebut dan membalas suratnya lalu mengaku namanya Zahra, balasan surat yang sangat simple. Hanya menyebut nama. Tidak lebih tidak kurang. Dan mahasiswa itupun menitip surat yang kedua denganmenyebutkan namanya saja, Faiz. Padahal Zahra tidak bertanya namun Faiz berinisiatif ingin namanya diketahui oleh Zahra.
Surat-menyurat itu berlangsung beberapa saat. Zahra jadi tahu bahwa Faiz adalah mahasiswa tingkat akhir dan Faiz pun tahu bahwa Zahra adalah mahasiswi di Yaman. Dan yang membuat Faiz bahagia adalah ketika mengetahui bahwa ternyata Zahra juga berasal dari Indonesia.
Hingga pada suatu hari tak seperti biasanya, surat Faiz tak berbalas. Berhari-hari Faiz menanti namun si kasir yang telah menjadi langganan kurirnya tak jua membawa titipan dari Zahra. Ia bingung sekaligus khawatir akan wanita itu. Ada apa gerangan hingga Zahra tak membalas suratnya. Apakah wanita itu sakit? Ataukah ia membuat wanita itu tersinggung? Jangan-jangan ia malah membuat Zahra tak nyaman dan Zahra menginginkannya berhenti mengganggu kehidupannya dengan surat-surat tak penting itu? Ribuan pertanyaan berkecamuk dalam fikiran Faiz.
Faiz merasa kehilangan wanita bercadar bersapu tangan putih hello kitti itu, setiap kali melihat wanita bergamis hitam ia pasti melihat sapu tangan yang wanita itu pakai. Namun tak satu pun yang mengenakan sapu tangan yang ia cari. Ah, Faiz sepertinya jatuh cinta kepada wanita yang mengaku bernama Zahra itu.
Setelah beberapa bulan Faiz pun pulang karena telah menuntaskan pendidikan S1 nya di kampus Al Ahgaf dengan membawa kenangan bersama Zahra. Walau hanya bertemu beberapa kali dan berkirim surat tapi cukup membuatnya hidup lebih tentram. Ketika Faiz hendak pulang ia pun bingung dan gelisah karena harus berpisah dengan Zahra. Dan semakin kalut lantaran tak tahu hingga detik itu dimana keberadaan Zahra. Kemana ia harus mencarinya. Tak ada satupun yang mengetahui rimbanya.
Setelah cukup lelah mencati akhirnya Faiz pun pasrah berpisah dengan Zahra. Ia telah berusaha dan berdoa. Kini saatnya bertawakkal atas cinta dan pengharapannya yang berkepanjangan ini kepada Tuhan. Dalam doanya ia selipkan nama Zahra, meratap dan memohon pada Allah agar berkenan mempertemukannya dengan Zahra lagi. Ia hanya ingin mengucapkan terima kasih dan berbalas budi pada gadis yang telah ia cintai itu.
Sesampai di tanah air Faiz ternyata telah dijodohkan oleh orang tuanya dengan seseorang wanita bernama Melia. Berat hati ia menerima tawaran orang tuanya karena dia punya keinginan kembali ke Yaman guna mencari Zahra ke setiap kampus di Tarim. Ia yakin Zahra pasti berada di sana.
Tapi orang tuanya tidak mengizinkan. Hatinya berkecamuk. Ada badai besar tengah menerjang pendiriannya. Apakah menuruti kata hati atau kata orang tua?
Sebagai alumni kampus Islam, ia pun sadar dan memutuskan mengikuti keinginan orang tuanya. Dengan mengharap ridho Allah ia mulai berusaha untuk menghapus nama Zahra dalam otaknya dan akhirnya dia menerima tawaran orang tuanya dengan rasa ikhlas.
Singkat cerita Faiz dan Melia pun menikah. Ketika acara pernikahan sudah usai mereka duduk berdua di dalam kamar pengantin. Malam itu angin bertasbih menciptakan hawa dingin yang memeluk badan. Suasana dingin itu makin terasa lantaran Faiz yang bersikap dingin. Melihat gelagat suaminya Melia pun angkat suara.
Kenapa kau diam kanda? Apakah ada seorang wanita lain dihatimu?”
Faiz terkejut mendapat pertanyaan seperti itu dari istrinya. Tatapan mata istrinya menghujam pertahanan hatinya. Inilah saatnya gumam Faiz dalam hati
“Saatnya aku jujur padamu," Faiz menghela nafas sejenak
Sebenarnya ada wanita lain yang namanya masih melekat dipikiranku, ucap Faiz hati-hati seraya menunduk. Ia tak kuasa memandang istrinya.
Melia tercekat. Siapakah nama wanita itu?”
“Namanya Zahra. Hanya itu yang ku tahu tentangnya,
Demi mendengar kejujuran lelaki yang baru beberapa jam resmi menjadi suaminya itu Melia bangkit. Faiz merasa bersalah. Tidak seharusnya ia jujur di malam pengantin seperti ini. Bagaimana kalau istrinya sakit hati? Bukankah dosa bagi seorang lelaki yang menyakiti hati istrinya? Ah, lelaki macam apa aku ini! Gerutu Faiz.
Kanda!
Faiz mendongak mencari asal suara. Melia berdiri di hadapannya.
Maafkan aku, kanda, ucap Melia seraya memakai sebuah sapu tangan di hadapan suaminya. Faiz terkejut bukan main. Itu sapu tangan Hello Kity milik Zahra. Bagaimana bisa...
Akulah Zahra yang kau maksud,kanda. Melia Ayu Zahra,
Bersambung...


Komentar
Posting Komentar